Archive for September, 2010

Satu lagi partai perempatfinal yang menjadi catatan: Belanda – Brazil. Gaung partai ini masih kalah dibandingkan partai tetangga Argentina- Jerman. Brazil dan Belanda keluar dengan hasil yang sempurna dari grup, namun miskin produktivitas.

Yang menjadi catatan khusus Piala Dunia kali ini adalah, Brazil yang dikenal sebagai jogo bonito (beautiful play, “bermain cantik” dalam bahasa Portugis) sama sekali tidak menampilkan permainan cantik. Begitu pula dengan Belanda, permainan kolektif total voetbal yang mengharuskan semua pemain bisa mengisi ruang dan tetap bergerak dinamis pun tidak tampak kali ini. Ada apa gerangan?

Kedua pelatih, baik Carlos Dunga dan Bert van Marwijk menurunkan gaya pragmatis yang diturunkan kepada anak latihnya. Metode ini berorientasi pada hasil. Penganut pragmatisme memiliki alasan bahwa tujuan akhir adalah kemenangan. Sementara penyuka keindahan memiliki alasan bahwa kemenangan harus dicapai dengan permainan yang memikat pula.

Pele mengungkapan bahwa masa depan sepakbola cantik akan berakhir dengan sepakbola pragmatis. Karena dalam Piala Dunia satu tim hanya akan bermain sampai 7 kali (jika masuk final) dan stamina pemain timnas harus “dihemat”, sehingga setiap tim lebih baik bermain “aman” dan “praktis”. Buntutnya setiap tim bermain akan bermain “aman”, terutama bila sudah unggul 1 gol. Pele sering keliru memprediksi sepakbola 🙂 namun kali ini sepertinya dia benar….

Mungkin tidak terlalu masalah dengan sepakbola total voetbal Belanda, toh the real total voetbal sudah punah sejak tahun 1980-an. Sangat sulit menerapkan konsep ini. Namun beda hal nya dengan jogo bonito, sepakbola yang dianggap agama di Brazil, haram hukumnya jika tidak dimainkan secara indah. Apalagi kalau kalah….dosa besar! 😀 😀 😀

Hal ini yang jelas terlihat, Dunga tampak senang dengan hasil pragmatisme Brazil di babak-babak awal Piala Dunia. Gol Robinho di menit awal (10′) dan setelah itu Brazil seperti mengamankan posisi dan cenderung untuk bermain keras sepanjang permainan. Sementara Belanda bermain sangat cerdas dan bisa keluar dari tekanan 0-1. 2 gol balasan Wesley Sneijder menunjukkan ia sedang berada pada top performance nya. Kepanikan Brazil ditutup dengan diusirnya Felipe Mello yang melakukan tackle keras (73′).

Bye-bye jogo bonito…..

Salah satu partai perempatfinal yang ditunggu-tunggu! Partai klasik, partai ulangan, partai yang ditunggu-tunggu seantero jagad, the real final: Argentina vs Jerman (boleh doong sedikit lebay…:) )

 

Seperti biasa media lebih panas daripada pertandingan itu sendiri, partai final Piala Dunia 1986, final Piala Dunia 1990. Kurang panas, media mengangkat komentar Sang Tuhan Maradona yang menanggap pemain Jerman Thomas Mueller sebagai anak gawang atau ball boy dan menolak menolak duduk bersama Mueller pada jumpa pers seusai laga (pada friendly match lalu di Berlin).

 

Materi pemain kedua tim, sama bagusnya. Keduanya sama juara grup, Argentina mendapat nilai sempurna, Jerman mendapat pelajaran yang berarti setelah kalah dari Serbia 0-1. Pelatih? Siapa yang tidak kenal Diego Maradona, sosok yang kharismatik, impulsif, dan lebih banyak dipuja bagai Dewa daripada pelatih? Joachim Loew, pelatih yang kalem, taktis, dan sangat praktis.

 

Faktor Maradona inilah yang banyak disorot. Tidak memiliki track-record yang mumpuni untuk menjadi pelatih, metode kepelatihannya hanya mengandalkan hubungan yang harmonis dengan anak-anaknya. Terlihat dari pinggir lapangan, setiap kali pergantian pemain, dia selalu memeluk dan cipika-cipiki dengan pemainnya. Oh iya satu lagi faktor: Lionel Messi. Argentina sangat bergantung pada permainan Messi yang dianggap titisan Maradona. Sampai partai ini diturunkan, sebagai seorang playmaker-striker Messi belum mencetak gol.

 

Sedangkan Jerman, sangat percaya diri setelah melumat tim unggulan Inggris 1-4. Bermain sangat efektif dan rapi menjaga setiap lini. Tentang Jerman, ada satu catatan lagi. Publik Jerman yang sangat rasional, tiba-tiba mulai percaya dengan klenik. Antara lain jimat keberuntungan Loew, sweater biru. Publik tidak menginginkan sweater itu dicuci selama Piala Dunia. Ditambah fenomena, gurita peramal Si Paul, yang berhasil meramal seluruh partai Jerman, termasuk partai kalah vs Serbia. Kali ini Paul meramal Jerman akan menang…unyu-unyu 😀 😀

 

 

Pertandingan mulai! Tidak seimbang, menit ke-3 sudah bobol oleh si ball boy ajaib Thomas Mueller. Selanjutnya hanya tampak Sang Tuhan Maradona yang frustasi dari pinggir lapangan, ternyata hamba Nya tidak bermain sebagus firman Nya. 😀 Jerman menutup pertandingan dengan 4 gol tanpa balas. Jerman lolos ke semifinal! Paul si Gurita toppp!!