Pragmatisme, Akhir Jogo Bonito?

Posted: September 29, 2010 in Piala Dunia
Tags: , , , , , ,

Satu lagi partai perempatfinal yang menjadi catatan: Belanda – Brazil. Gaung partai ini masih kalah dibandingkan partai tetangga Argentina- Jerman. Brazil dan Belanda keluar dengan hasil yang sempurna dari grup, namun miskin produktivitas.

Yang menjadi catatan khusus Piala Dunia kali ini adalah, Brazil yang dikenal sebagai jogo bonito (beautiful play, “bermain cantik” dalam bahasa Portugis) sama sekali tidak menampilkan permainan cantik. Begitu pula dengan Belanda, permainan kolektif total voetbal yang mengharuskan semua pemain bisa mengisi ruang dan tetap bergerak dinamis pun tidak tampak kali ini. Ada apa gerangan?

Kedua pelatih, baik Carlos Dunga dan Bert van Marwijk menurunkan gaya pragmatis yang diturunkan kepada anak latihnya. Metode ini berorientasi pada hasil. Penganut pragmatisme memiliki alasan bahwa tujuan akhir adalah kemenangan. Sementara penyuka keindahan memiliki alasan bahwa kemenangan harus dicapai dengan permainan yang memikat pula.

Pele mengungkapan bahwa masa depan sepakbola cantik akan berakhir dengan sepakbola pragmatis. Karena dalam Piala Dunia satu tim hanya akan bermain sampai 7 kali (jika masuk final) dan stamina pemain timnas harus “dihemat”, sehingga setiap tim lebih baik bermain “aman” dan “praktis”. Buntutnya setiap tim bermain akan bermain “aman”, terutama bila sudah unggul 1 gol. Pele sering keliru memprediksi sepakbola πŸ™‚ namun kali ini sepertinya dia benar….

Mungkin tidak terlalu masalah dengan sepakbola total voetbal Belanda, toh the real total voetbal sudah punah sejak tahun 1980-an. Sangat sulit menerapkan konsep ini. Namun beda hal nya dengan jogo bonito, sepakbola yang dianggap agama di Brazil, haram hukumnya jika tidak dimainkan secara indah. Apalagi kalau kalah….dosa besar! πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Hal ini yang jelas terlihat, Dunga tampak senang dengan hasil pragmatisme Brazil di babak-babak awal Piala Dunia. Gol Robinho di menit awal (10′) dan setelah itu Brazil seperti mengamankan posisi dan cenderung untuk bermain keras sepanjang permainan. Sementara Belanda bermain sangat cerdas dan bisa keluar dari tekanan 0-1. 2 gol balasan Wesley Sneijder menunjukkan ia sedang berada pada top performance nya. Kepanikan Brazil ditutup dengan diusirnya Felipe Mello yang melakukan tackle keras (73′).

Bye-bye jogo bonito…..

Advertisements
Comments
  1. hedi says:

    ini kejadian udah berlangsung minimal 5 tahun terakhir, ketika suporter dan owner lebih mementingkan hasil — termasuk pelatih yang merasa selalu terancam risiko pecat — akhirnya pilihan pragmatis jadi solusi.

    Belum kemudian ada contoh bahwa pragmatis lebih berhasil, misal Jose Mourinho. Jadi, ngapain repot2. gitu kira2 pikiran mereka πŸ˜€

  2. The Game Bet says:

    Brasil parah neh , gak juara lagi deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s